Jadilah orang pertama yang menerima update artikel terbaru dari kami!!!

Cara Menyikapi Budaya Luar

Table of Contents

Cara Menyikapi Budaya Luar

Kita hidup di zaman ketika dunia terasa semakin dekat. Melalui media sosial, televisi, film, musik, dan pergaulan sehari-hari, berbagai budaya dari luar dapat masuk ke tengah masyarakat dengan sangat mudah.

Cara berpakaian, gaya berbicara, pola pergaulan, hingga cara memandang kehidupan perlahan memengaruhi kebiasaan kita.

Sikap terbuka terhadap budaya luar sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah. Masyarakat yang ramah, mudah menerima tamu, dan menghargai perbedaan merupakan masyarakat yang memiliki kelebihan.

Namun, persoalan muncul ketika keramahan berubah menjadi penerimaan tanpa pertimbangan. Apa pun yang datang dari luar dianggap menarik, modern, dan layak ditiru, sementara nilai agama dan adat justru mulai dikesampingkan.

Terkadang kita begitu takut dianggap kuno sehingga malu mempertahankan adat sendiri, kurang percaya diri ketika harus menunjukkan identitas budaya dan agama kita, dan merasa bangga ketika mampu mengikuti gaya hidup budaya orang lain. Padahal, kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi, sebagaimana keterbukaan tidak berarti harus menerima segala sesuatu.

Di sinilah kita perlu mengingat sebuah falsafah yang sangat dalam maknanya. Yaitu: “Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah.”

Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah

Falsafah ini dikenal luas dalam tradisi Minangkabau dan memiliki pesan penting bagi kehidupan masyarakat. Yakni, adat harus berlandaskan syariat Islam, sedangkan syariat berpedoman pada Kitabullah, yaitu Al-Qur’an.

Adat bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan harus menjadi bagian dari kehidupan yang sejalan dengan nilai kebenaran dan kebaikan.

Falsafah tersebut mengajarkan bahwa kita tidak perlu menolak semua budaya luar. Kita boleh mempelajari ilmu pengetahuan, mengembangkan teknologi, menghargai ketepatan waktu, membangun etos kerja, dan meniru kebiasaan baik dari bangsa lain.

Akan tetapi, jika hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama, merusak akhlak, atau menghilangkan kehormatan manusia, kita harus tegas menolaknya.

Dengan kata lain, budaya boleh datang dari mana saja, tetapi nilai yang menjadi pegangan hidup harus tetap kokoh dan tidak boleh dihilangkan, apalagi ditentukan hanya karena tren.

Islam sendiri mengajarkan agar manusia menggunakan akal dan pertimbangan dalam menjalani kehidupan.

Allah berfirman: (QS. Al-Hujurat: 6).

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini berbicara tentang pentingnya memeriksa berita, bukan secara langsung tentang budaya. Namun, semangatnya mengajarkan kita agar tidak menerima sesuatu secara tergesa-gesa.

Jika berita saja perlu diperiksa, kebiasaan yang memengaruhi cara berpikir dan perilaku kita juga patut dipertimbangkan dengan bijaksana.

Islam Tidak Mengajarkan Penolakan Budaya Asing

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua budaya luar bertentangan dengan Islam. Perbedaan bahasa, makanan, pakaian, kesenian, dan kebiasaan sosial merupakan bagian dari keberagaman manusia.

Allah berfirman: (QS. Al-Hujurat: 13).

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling merendahkan. Islam tidak mengharuskan umatnya menutup diri dari dunia luar. Kita justru diperintahkan untuk saling mengenal.

Saling mengenal tentu berbeda dengan meniru budayanya. Menghormati budaya lain tidak berarti harus meninggalkan budaya sendiri. Kita dapat bersikap ramah tanpa kehilangan prinsip, dan dapat menghargai perbedaan tanpa mengorbankan nilai agama.

Ketika Rasa Malu Dianggap Ketinggalan Zaman

Bayangkan seorang anak muda yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung sopan santun. Sejak kecil, ia diajarkan berbicara dengan hormat kepada orang tua, menjaga pergaulan, dan menghargai tamu.

Namun, setelah banyak menghabiskan waktu di media sosial, ia mulai menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang kuno.

Ia merasa harus berbicara kasar agar terlihat berani, mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuannya agar dianggap sukses, dan menganggap nasihat orang tua sebagai gangguan terhadap kebebasan.

Cerita ini merupakan gambaran yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bukan berarti semua anak muda mengalami hal yang sama. Masalahnya bukan terletak pada teknologi atau budaya luar itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya.

Ketika ukuran baik dan buruk hanya ditentukan oleh popularitas, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk menilai dirinya sendiri. Sesuatu dianggap benar karena banyak orang melakukannya, bukan karena memang membawa kebaikan.

Al-Qur’an berfirman: (QS. Al-Isra’: 36).

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini mengajarkan tanggung jawab dalam menggunakan kemampuan kita. Kita tidak seharusnya mengikuti tren hanya karena sedang populer.

Kita perlu bertanya: Apakah kebiasaan ini membawa manfaat? Apakah bertentangan dengan agama? Apakah sesuai dengan nilai yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat menjadi penyaring yang sangat berguna dalam menyikapi budaya luar.

Belajar dari Kisah Nabi

Salah satu pelajaran menarik dapat kita ambil dari kisah Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi masyarakat dengan beragam kebiasaan.

Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk memusuhi semua orang yang berbeda. Sebaliknya, beliau membangun hubungan sosial, menepati perjanjian, berdagang, dan memperlakukan orang lain dengan adil.

Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beliau hidup bersama masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda, termasuk komunitas Yahudi.

Dalam Piagam Madinah, terdapat pengaturan mengenai kehidupan bersama dan tanggung jawab antarkelompok.

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya membangun masyarakat yang tertib, saling menghormati, dan berpegang pada kesepakatan.

Namun, hidup berdampingan bukan berarti semua keyakinan harus dicampuradukkan. Kita dapat bekerja sama dalam urusan kemanusiaan, menjaga keamanan, membantu tetangga, dan membangun kesejahteraan bersama tanpa harus meninggalkan prinsip agama masing-masing.

Pelajaran ini sangat relevan sekarang. Kita tidak perlu memusuhi orang yang berbeda budaya. Kita hanya perlu memiliki batas yang jelas antara menghormati orang lain dan mengikuti sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan sendiri.

Kisah Ilustratif Sederhana

Bayangkan dua orang pedagang di sebuah pasar. Pedagang pertama melihat bahwa para pesaingnya mulai menggunakan cara promosi yang berlebihan, memberikan janji yang tidak sesuai kenyataan, dan menjelekkan dagangan orang lain demi mendapatkan pelanggan.

Ia berpikir bahwa cara itu harus ditiru agar tidak kalah bersaing.

Sementara itu, pedagang kedua memilih tetap jujur. Ia memperbaiki kualitas barang, melayani pembeli dengan ramah, dan menjelaskan kekurangan produknya secara terbuka.

Mungkin ia tidak selalu memperoleh keuntungan sebesar pesaingnya dalam waktu singkat. Namun, pembeli mulai percaya kepadanya karena mengetahui bahwa perkataannya dapat dipegang.

Kisah ilustratif ini menunjukkan bahwa tidak semua cara yang populer patut diikuti. Kita boleh belajar strategi pemasaran dari mana pun, tetapi kejujuran tetap harus menjadi batasnya.

Pesannya adalah keterampilan dan kemajuan harus berjalan bersama akhlak. Kita boleh menjadi modern, tetapi jangan menghalalkan segala cara.

Peran Keluarga dan Masyarakat

Menyaring budaya luar bukan hanya tugas ulama atau tokoh adat. Orang tua, guru, pemimpin masyarakat, dan generasi muda memiliki tanggung jawab bersama.

Orang tua perlu memberikan teladan, bukan hanya melarang. Anak-anak akan lebih mudah memahami nilai kesopanan ketika melihat orang tuanya menghormati orang lain.

Guru dapat mengajarkan bahwa berpikir kritis bukan berarti menolak semua hal baru. Tokoh adat dan ulama dapat bekerja sama menjelaskan nilai tradisi dengan bahasa yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Imam Al-Ghazali, di dalam kitabnya menekankan pentingnya pembinaan jiwa dan pembiasaan perilaku baik. Gagasan ini mengingatkan bahwa karakter tidak terbentuk hanya melalui nasihat, tetapi juga melalui latihan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan adat sebagai alasan untuk membenarkan segala kebiasaan lama. Tidak semua tradisi otomatis benar hanya karena telah berlangsung lama.

Adat yang baik perlu dipertahankan, sedangkan kebiasaan yang bertentangan dengan keadilan dan ajaran agama perlu diperbaiki.

Dengan demikian, agama dan adat bukanlah alat untuk menutup diri, melainkan pedoman untuk membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

Terbuka kepada Dunia, Berakar pada Nilai

Keramahan adalah kekuatan, keterbukaan adalah peluang, dan budaya merupakan kekayaan manusia. Namun, semuanya membutuhkan kebijaksanaan.

Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang menolak semua pengaruh luar, melainkan masyarakat yang mampu memilih mana yang baik dan meninggalkan mana yang merusak.

Falsafah “adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah” mengingatkan kita bahwa kemajuan seharusnya tidak membuat manusia kehilangan arah.

Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, menguasai teknologi, mempelajari kebudayaan asing, dan membangun hubungan dengan siapa pun. Akan tetapi, semua itu harus tetap berada dalam pertimbangan akal sehat, akhlak, agama, dan adat yang baik.

Jangan sampai kita begitu sibuk menjadi seperti orang lain hingga lupa siapa diri kita sebenarnya. Jangan sampai keramahan membuat kita kehilangan pendirian, dan jangan sampai keterbukaan berubah menjadi penerimaan tanpa batas.

Jadilah masyarakat yang ramah dalam pergaulan, luas dalam wawasan, bijaksana dalam menerima perubahan, dan teguh dalam memegang nilai. Sebab, dunia boleh berubah, tetapi manusia tetap membutuhkan pegangan agar tidak kehilangan arah.

Posting Komentar